Recent twitter entries...

Metamorfdiri #2

4
Setiap Orang Inginkan Yang Terbaik Bagi Dirinya

Setiap orang jelas menginginkan yang terbaik akan berpihak pada dirinya sendiri, diakui atau tidak tapi begitulah faktanya. Mulai dari hal yang sangat kecil-kecil sampai hal yang besar tentunya. Makanan, rumah, baju, aktivitas, pekerjaan, sahabat, istri, guru atau apapun yang berelasi dengan diri kita, pasti kita menginginkan yang terbaik buat kita.
Makanan misal, kita akan pilih makanan yang paling baik, yang bergzi lengkap, empat sehat lima sempurna pokoknyalah. Kalau mampu tapi,hehe. Kalau enggak? Tetep dari budget yang kita miliki, kita akan pilihkan yang terbaik. Ya ngga? Harus iya *maksa. Kenapa temen-temen yang pada ngekos tu makan hamper tia[ hari pake tempe? Sederhana, karena budgetnya Cuma cukup buat itu,haha. Kalau punya lebih pasti akan milih yang lebih juga, yang terbaik buat dirinya.
Baju misal ni, tentu akan pilih yang paling baik, entah itu bahannya, harganya, kecocokannya, match atau enggaknya, momen apa, dimana dsb. Bahkan bagi sebagian orang dalam hal memilih baju butuh ritual yang pajaaaag, biar dapat yang “ngeh” degan dirinya. Apalagi buat hadapi momen special, seisi lemari bisa keluar semua, (haha mulai deh lebay). Coba bayangkan seandainya ada seorang perempuan/akhwat milihnya gini, jilbab warna merah, baju warna kuning dan rok warna hijau. Gimana tuh? Bisa disangka traffic light berjalan -_-“. Atau misal dalam agenda pertemuan formal, tiba-tiba kita dating dengan baju kostum hallowen, haha bisa ditendang satpam kita.
Sahabat juga kita pingin yang terbaik, ya ga? Yang bisa ngerti kita, yang selalu ada disaat suka dan duka, yang mau berbagi air mata, yang mau nganter kemana-mana, yang bisa dipinjemin uang kapan saja (mulai ngaco) dsb.
Pekerjaan juga pasti pengen yang terbaik, tempatnya nyaman, kerja ringan, tapi gaji besar, haha. Ya setidaknya tidak membuat batin tersiksalah.
Yang ga lupa dan paling sensitive dibicarakan biasanya soal pasangan, ya kan? Hayoo
Kita jelas pingin yang paling ganteng/cantik, yang pengertian, yang keren, yang kaya, yang sholeh dsb. Walaupun kita sering ga nyadar: kita si pasti mau sama orang kaya gitu tapi emang orang yang perfect gitu mau sama kita??? Nah lo *gludhak.
Sampai ada seorang murid datang ke guru ngajinya dan critanya minta dicarikan istri. Sang muridpun menyampaikan criteria yang diinginkan. Banyaaaak, sholehahlah, pnslah, mapanlah, punya motor, cantik, dsb. Detaiiiill banget. Lalu sang guru ngaji dengan wajah serius menjawab “anakku, kalau ada perempuan yang seperti itu, hmm…. pasti sudah saya lamar dari duluuuu, g ague kasihin eloo”.
Murid: -____-“

Longterm memori

0
yang kalau inget suka bikin ketawa, senyum, tersipu, sedih, kangen, dsb

alhuda lama, masih ditimur, bersekat triplek, dan yang paling khas 'thok...thok...thookkk." lalu ada suara "assalamu'alaikum, ada akh/ukh..... bla bla bla..."
main gitar sambil nyanyi nyanyi sampai ditegut "afwan akh, lagunya tidak akhsan.." emang bukan mba, ini lagu keris patih -__-"
ngerjain orang di FIA
jalan jalan tengah malam, eh dini hari, sampai alun2 kidul, nongkrong lama, trus ke tugu, dsb. tapi tetep makannya di burjo depan kos.
tidur dikamar kos ukuran 3x3 (kayaknya) diis 6 orang.. dah ga jelas bentknya. tahu tahu ada yang ga sengaja kakinya neken dispenser pas di tuas buat ngeluarin air, banjir deh -__-"
jenguk rame rame sahabat yang kecelakaan sampai kakinya di gip, disambut dengan senyum khasnya sambil menyibakkan rambut yang berponi,hehe. pulangnya kasih kenang2an tanda tangan di gip
liga onet
edisi temanggung, PPT, preman-preman tarbiyah, nggrudug indomaret kirain mau apa ternyata nyari toilet -__-"", makan siomay di alun alun, main air dikaki gunung, poto siluet, pulangnya ada yang nylempit ditengah truk gandeng, akhirnya sms lagi istirahat di puskesmas, bersamaan dengan itu ada hp ilang di trans jogja. sip
ga punya kos 3 bulan, tiap hari kerjaannya bawa handuk keliling kos orang numpang tidur dan mandi,he
ngobrol bersama dipuncak lawe sambil ditemani rintik gerimis hujan, diakhiri nyanyian. nice :)
di'pecat' dari wakil presiden rema malah dikasih bunga, hehe malamnya candlelight diner alami alias mati lampu sampai larut, dan endingnya ada puisi cinta :')
pasta api unggun, udah ngumpulin kayu, udah susah payah nyaliin api, 5 menit kemudian.... hujan. :'(
poto boysband di tugu, yang akhirnya gagal lounching
jinggle al huda, ajari aku merasa

sudah banyak episode ternya, terimakasih, dan maaf.

pasti banyak yang terlewat tak tertulis, maklumlah sambil lari nulisnya, mencoba memunculkan memori saja...

ayo tuliskan momen yang lain ya... ntar dikembangkan. jadi novel atau setidaknya kenang-kenangan.
ntar bukunya bisa kita wariskan ke cucu kita masing masing.

:)

Metamorfdiri #1

0
Hidup adalah akumulasi dari pilihan sikap
Ibarat sebuah perjalanan yang bertemu dengan pertigaan, perempatan, perlimaan, perenaman, pertujuan dan seterusnya, lantas kita harus memilih salah satu jalan, dalam kehidupan keseharian, kita senantiasa dihadapkan juga dengan pilihan-pilihan hidup. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai dari pilihan-pilihan kecil sampai pada pilihan-pilihan besar.
Mulai dari bangun pagi, lihat jam itu kita sudah masuk pada pilihan. Akan bangun atau melanjutkan tidur lagi. Kalau milih bangun, maka akan lanjut kepada aktivitas selanjutya yang juga milih, mau gosok gigi atau engga, cuci muka engga, mandi atau enggak, sarapan atau engga, nyetrika baju atau engga, mau berangkat sekolah/kuliah atau enggak, dsb. Yang setiap pilihan itu akan berdampak pada jalan kehidupan. Bisa jangka panjang bisa jangka pedek. Missal ni, pas buka mata, lihat jam nunjuk angka empat, males bangun karena berfikir kepagian trus milih tidur lagi nah ternyata bangun kesiangan jam 6 misal, mangka dampaknya akan mempengaruhi pilihan sikap kita selanjutnya. Karena telat, tidak bisa milih lagi mau sarapan atau enggak, ya bisa si, dengan resiko lebih besar tidak ikut sekolah/kuliah. Contoh lagi, misalnya bangunnya dah pagi tu, trus dihadapkan dengan pilihan mau sarapan atau enggak, ternyata milih enggak sarapan. Ngefek ke kehidupan selanjutnya. Sakit perut akan membuat kehidupan kita jadi berbeda, kelaparan mbikin dikelas ngantuk, ga tau materi, ga memperhatikan dosen atau guru, dimarahi, akhirnya harus minjem catetan, hasil ujian jelek, harus ngulang, dsb. Wah wah wah karena milih ga sarapan bisa ngulang kuliah tahun depan, hehe. Ya agak lebay dikit ga papa deh, tapi itu real, nyata memang seperti itu, bahwa pilihan pilihan kita dalam setiap momen waktu akan berdampak pada kehidupan selanjutnya. Yang lebih besar misalnya adalah ketika kita lulus smp atau sma, lantas harus melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pilihan itu jelas akan berdampak pada masa depan kehidupan.
Hidup kita yang sekarang juga dampak dari pilihan-pilihan sikap kita masa lalu, yang kurus, mungkin karena dulu lebih milih ga suka makan, yang gemuk, mungkin dulu memilih untuk makan banyak dan penuh nutrisi. Yang sekarang pinter dan sekolah/kuliah di tempat terbaik, mungkin karena dulu juga memilih untuk giat belajar, bberusaha keras, yang sekarang belum mendapatkan apa yang dimau, mungkin karena dulu milih enggan berusaha, enggan belajar dsb. Yang jelas, kesemuanya adalah dampa dari pilihan-pilihan sikap kita di masa lalu.
So, masa depan adalah dampak dari pilihan-pilihan sikap kita hari ini. Bagi yang mau masa depannya baik, aka perhatikanlah pilihan-pilihan hari ini.

Tentang Ulat Bulu

0
ulat bulu memang senantiasa dijauhi tapi dia adalah pemimpi, dia sangat berobsesi menjadi indah meski harus melewati fase yang sangat berat menjadi sebuah kepompng. dia tetap optimis akan menjadi indah dan disukai banyak orang, kupu-kupu.
kuncinya adalah optimisme terhadap obsesi yang dimiliki. walaupun sekian banyak rintangan menghadang dia tetap berjuang. meskipun situasi soalah sudah ada pada titik mati, hal itu senantiasa dimaknai sebagai komah kehidupan yang pasti masih berkelanjutan
visi dan obsesi kemudian optimis. hal itu yang akan membawamu ke arah 'indah'.. tentunya karena Allah swt
kau mau mencoba??

Inspirasi dari sahabatku

0
aku terbangun dan melihat sekeliling kos kamar salah seorang sahabatku, karena semalam menginap dirumahnya (red: kos). sekali lagi mendapat inspirasi tentang makna keseharian. ketika sahabatku bersama deganku pulang dan sampai kosnya, ia terlihat sangat capek. tapi masih menyempatkan ke kamar mandi untuk cuci muka dan berwudlu. setelah itu ia berganti baju(baju tidur) dan bersiap tidur.
keesokan harinya tatkala bangun dan kemudian menjalankan sholat subuh, saya yang sudah siap menunggunya kembali takjub. dia berganti baju lagi dg pakaian yang spesial digunakan untuk shalat. pasca shalatpun dia kenakan kaos dan celana trining untuk bersih2 di luar kos.

sederhana mungkin, tapi ada ibroh bagi saya: bagaimana menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. raight man on the raigh place. layaknya sahabatku tadi yg mengklaifikasikan baju dan fungsinya. baju tidur untuk tidur, baju lapangan untuk lapangan, baju formal untuk formal dst. kalau di asosiasikan dg manusia, semestinya seperti itu juga. menempatkan seseorang (dalam hal amanah) sesuai dg potensinya. ahli media tempatkan di media, ahli diplomasi tempatkan sbagai diplomat dan lain sebagainya. sehiingga potensi mereka akan terus berkembang karena terdukung dg amanah2 yang diberikan. bisa jadi seterusnya sampai titik kepakaran.
nah, bagaimana dg realitas faktual yang kita jumpai? ini nampaknya masih menjadi PR untuk kita semua. semoga kita menjadi orang yang bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya sekaligus kita menjadi orang yang ditempatkan sesuai dengan porsi dan potensi kita. wallahu a'lam.

aku akan bertanya

0
Sahabatku, sajaknya akhir-akhir ini menjadi berbeda. kenapa?apa yang membuat nuansa begitu berbeda? apa karena corak itu telah tiada lantas merasa tak ada alasan lagi untuk tidak berbeda?
sahabatku, dulu kau pemberani. kau punya pijakan yang kuat, seolah badaipun tak akan mampu menggoyahkanmu apalaggi sekedar kata-kata. sekarang?aku bertanya
sahabatku, dulu kau tak pernah sembunyi dibalik tabir persepsi. senantiasa jujur mengintepretasi diri dan berekspresi. sekarang?
kawanku, dulu kau bukan kapas yg mudah terbang kesana kemari ketika angin berhembus. dulu kau adlah karang yang kokoh, tak peduli sekencang apa ombak menerpa, kau masih berdiri. sekarang? aku bertanya
saudaraku, lembutmu dahulu seraya dengan jujur apa adanya, kasarmu cinta, dan ejekanmu doa. sekarang? begitukah caramu mengingatkan? aku bertanya
sahabatku, candamu dulu segar, terkesan tak beraturan tapi nyaman. hati hangat meski dalam dinginnya tekanan. sekarang? apakah bukan tekanan yang kau berikan? aku kembali bertanya
sahabatku, kenapa? karena apa? apa karena tak lagi bersama?
dulu kau sering menyapa dengan panggilan yang kusuka, mengejekku lengkap dengan tawa, menghias jiwaku dengan pesona yang mulia. sekarang?
sahabatku, tak ingatkah dengan malam-malam yang kita lalui, tak ingat dengan keringat-keringat yang bercucuran membsahi perjuangan jamai, tak ingatkah dengan sebutan "ok2.. sip!" atau "bro, sist" atau "brother" atau ungkapan "kalau begitu..." atau "ke'berat'an" atau "tawa sholihah" atau yang lainnya. terlampau banyak kalau kutulis disini.
semuanya itu adalah pelangi. dulu...
sekarang? aku akan bertanya....
tapi pada siapa, seolah gemuruh saja yang mengerti semuanya. atau kau pura-pura atau bahkan menyengaja? entahlah...
andai pagar, tembok, kursi meja yang ada di 'sana' bisa bicara, kurasa merka akan sampaikan rindunya pada kita.
sekali lagi aku bertanya....

Seperti apa Kau?

1
Engkau adalah pagi yang selalu ingin kujumpai untuk membuka pagi, memberi kesegaran dan inspirasi.
engkau adalah siang yang memberi spirit dan motivasi untuk terus bekerja dan berkarya.
engkau seperti senja yang selalu saja menenangkan dan mengingatkan di setiap tapak-tapak impian
dan engkau bagai malam tempatku mengadu dan bergantung, istirahat dan sembunyi setelah satu hari. kembali menata diri untuk esok pagi.
itulah mengapa engkau senantiasa ingin kujumpai disetiap sesi waktu.