Recent twitter entries...

bertanya kembali

2

suatu ketika dalam sebuah kajian ada seorang akhwat bertanya kepada narasumber:

"ustad, saya seorang yang rutin menjalankan sholat malam, sholat duha, dan puasa. insyaAllah saya melakukannya rutin setiap momen waktu. tetapi persoalannya adalah akhir-akhir ini saya tidak merasakan hal yang saya lakukan tersebut tidak lebih dari rutinitas belaka, tanpa ruh sama sekali, sehingga menjadikan saya jenuh melakukannya, kira-kira apa penyebabnya ustad? dan bagaimana solusinya?

lantas dijawab oleh ustad yang menjadi narasumber

"terkadang kita perlu memperbaharui niat dalam menjalankan kesemua rutinitas itu, untuk siapa si sebenarnya kita melakukan rutinitas itu, jangan-jangan hanya untuk kepentingan dunia semata. dan yang tak kalah penting adalah kita perlu membaca ulang tentang faedah atau manfaat-manfaat dari rutinitas yang kita lakukan. jadi kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan'

kira-kira seperti itulah potongan kisah lampau yang terjadi sekitar 4 tahunan yang lalu, tapi masih teringat jelas dalam memoriku. terutama pada bagian "jadi kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan"

ya, memahami setiap apa yang kita kerjakan, apa, bagaimana, untuk siapa, dan apa manfaatnya..

pernahkah terbersit dalam hati kita kenapa kita hidup? kenapa kita islam? kenapa kita kuliah? kenapa kita ngaji? dan sebagainya. pernah?

atau kita sekedar menjalani kesemuanya yang terjadi dalam hidup kita menjadi rutinitas belaka? bukan karena kefaaman utuh dalam diri kita?

rutinlah berdialog dengan diri kita masing-masing, tentang apa yang sudah, sedag dan akan kita lakukan. sekali lagi, supaya kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan..


Metamorfdiri #4

0
Kita tidak sedang berada pada lingkungan yang mendukung kita untuk jadi baik

“mas, sekarang aku aktiv di kegiatan mas, fokusnya dalam ranah pemberdayaan perempuan”
Ucap salah seorang teman, ya perbincangan yang diawali dengan obrolan ringan sampai temanku yang satu ini berucapa menceritakan aktivitas sosialnya. Dan tentu saja hal itu mengundang rasa ingin tahuku dan terjadilah perbincangan:
Aku : “wah seru tuh, bisa aktivitas di ranah social”
Temenku : “biasaa aja mas, dari pada di kos nganggur” sambil menyimpulkan senyum
Aku : “trus apa aktivitasnya di kegiatan itu?”
Temenku : dengan wajah bersemangat dia sampaikan “setiap malam minggu mas, kami akan pergi ke tempat-tempat yang dianggap sebagai lading orang pacaran dan berbuat termasuk tempat prostitusi mas”
Tambah penasaran aku
Aku : “trus apa yang kalian lakukan disana? Apa member penyuluhan? Atau dskusi? Atau apa?
Temenku : “bukan mas, itu standar. Tau apa yang kami lakukan?”
Aku : “apa?”
Temenku : “ kami bagi-bagi kondom!”
Aku : *maksa senyum
Temenku : “bagi kami mas, seks bebas itu sudah tidak bisa di cegah. Yang bisa dicegah adalah dampaknya mas, dan hasil surve kami membuktikan bahwa dampak yang paling ditakutkan oleh seorang yang melakukan seks bebas itu bukan HIV AIDS mas, tapi kehamilan. Oleh karena itulah, kami turun untuk membantu agar dampak kehamilan itu bisa direduksi”
MIRIS!!
Tapi begitulah realita lingkungan kita, yang barusan adalah kisah nyata bahwa ada sekelompokorang yang rela bersusah dalam rangka melanggengkan sebuah tindakan asusila bernama free sex, dengan alas an yang sangat manusiawi sebenarnya tetapi salah.
Miris, tapi begitulah realita lingkungan kita
Lihatlah disekeliling kita,
Warnet misalnya, sudah kaya hotel dengan tariff termurah, setiap bilik tertutup rapat bahkan bisa dikunci dari dalam, lengkap dengan fasilitas yang nyaman didalam bilik itu. Yang lebih parah bahka ada sebagian yang menyediakan link ke situs-situs yang tidak semestinya disaksikan. Jangan lupa, Indonesia adalah Negara terbesar ke 3 pengakses situs porno…
Itulah lingkungan kita, dan kita ada di dalamnya.
Contoh lain misal dalam ujian nasional, cek secara riset objektif berapa persen jumlah siswa yang tidak nyontek? Apa ada 10 % atau malah Cuma 1% ? malah ga ada kayaknya. Gimana ga nyontek, orang gurunya saja menganjurkan, sistemnya dibuat agar mempermudah proses nyontek tersebut, bahkan triknya pun diajari. Semuanya terkalahkan dengan ketakutan ketidaklulusan termasuk integritas diri!
Ya, pada akhirnya lulus, lulus uujian nasional sekaligus lulus mengalahkan integritas dirinya. Sukses dengan kelulusan dengan cara menghancurkan masa depanya.
Miris, tapi itulah lingkungan kita.
Semua akhlak baik rasanya harus tergusur kalau kita mau eksis dipanggung kehidupan.
Kuliah misal, dari proses masuk saja sudah ada peluang ketidak jujuran, peluang untuk curang, dengan cara “membeli” satu status mahasiswa. Setelah jadi mahasiswa juga banyak peluang ketidak jujuran, titib absen, nyontek pas ujian, mbayar orang buat ngerjain tugas, bahkan skripsi pun punya tukang. Bahkan tidak sedikit yang status sarjananya adalah melalui transaksi pasar bukan siding ilmiah. Sekali lagi miris.
Atau kalaupun seorang mahasiswa yang lurus sejak masuk sampai kelulusannya, dan setelahnya dia butuh pekerjaan, maka system(red:lingkungan) lagi-lagi memaksa dia untuk berbuat curang. Untuk masuk perusahaan, atau menjadi PNS selalu ada calo yang menjanjikan kelulusan dengan harga berjenjang bahkan. masyaAllah…
Percaya atau tidak tapi begitulah realita yang terjadi disekeliling kita.
Dan saya meyakini setiap kita pasti bisa menceritakan atau menguak kisah-kisah lain yang lebih miris, yang itu membuat kita bersepakat atau tidak sepakat harus menganggukan kepala bahwa kita sedang berada pada lingkungan yang tidak mendukung kita untuk menjadi baik.

Lantas?? Apa yang harus kita lakukan??
--bersambung#5--

Prayboy

0

keren ni gambar

Metamorfdiri #3

0
Parameter ‘baik’ itu beda beda

Jadi jelas, bahwa setiap kita pasti menginginkan pilihan yang terbaik. Persoalannya adalah baik itu yang bagaimana? Pake parameter apa. Karena ternyata baik bagi orang yang satu bisa jadi BEDA dengan baiknya orang lain.
Makan daging kambing bagi sebagian orang adalah salah satu hal terbaik, kandungan protein banyak dan bisa menaikan tekanan darah. Tapi bagi orang hipertensi? Wahana di dufan misal, yang high impact, bisa jadi satu permainan yang menantang dan menyenangkan, tapi bagi para pengidap penyakit jantung? *bunuh diri kali ya….
Cantik bagi si A belum tentu buat si B, cocok buat si A belum tentu buat si C. nah nah nah,
Pernah punya pengalaman menarik, seseorang datang dengan menggebu-gebu, keringat bercucuran mengalir seperti kran di bak (lebay) lantas bercerita tentang satu hal yang bagi dia sangat menarik,
Teman: “mas ayo tak ajak pergi, refresing sekaligus cari ilmu. Seruuuu pokoknya”
Saya: “wah kemana? Sepertinya menarik tu”
Temen: “tentu menarik mas, kita mau berbicara tentang masa depan kita, biarpun masih sma kita semestinya sudah ga bergantung sama orang tua, dan bisa menentukan sendiri arah tujuan hidup kita (muka bijak)”
Saya: “pingin si, tapi maaf ada acara lain, kapan-kapan deh, ada saatnya nanti, hehe (diplomatis)”
Temen: “nyesel ntar lho mas, dia Cuma datang hari ini doang”
Saya: “dia? Dia siapa?”
Temen: “ya yang mau ngasih ilmu sama kita, orangnya keren, kaya, mobilnya bagus, sip deh pokoknya”
Saya: *mikir
Temen: ayolah mas… (muka memelas)
Saya: karena ga tega akhirnya ngomong “yuk deh,”
Temen: *jingkrak-jingkrak
Akhirnya kami berangkat ke suatu tempat yang agak horor,hoho
Setelah 15 menit perjalanan akhirnya sampai tempat tujuan…
Pelan-pelan masuk ke rumah bertemu dengan orang yang dijanjikan, hening karena hanya bertiga disebuah ruang yang ‘horor itu. lalu apa yang terjadi?....
Deng deng deng --------presentasi mlm--------- -_-“
Setelah presentasi lama, samapi selesai. Diakhir acara saya ngomong sama temen saya
Saya: “trimaksih sudah review materi presentasi”
Temen: “review????”(muka sangat penasaran)
Saya: (diam dan menyodorkan kartu tanda anggota mlm yang baru dipresentasikan)
Temen: *tepok jidad *glodhak!!!!
----------kisahnyatadengansedikitrekayasa---------------
Bagi temen saya, saya adalah target terbaik, tapi bagi saya? -___-“

Bagi sebagian orang, bir, wiski, daging babi, dsb adalah hal terbaik dan ternikmat, tapi bagi sebagian orang yang lain malah menjadi laknat. Bagi sebagian orang pacaran, ciuman, sampai freesex adalah surga sebelum surga, bagi sebagian orang yang lain adalah neraka berbalut indah fatamorgana. Bagi sebagian orang, nyontek, korupsi, menipu adalah shortcut kesuksesan, bagi sebagian orang yang lain adalah jurang kehancuran.
Barangkali masih ada banyak cerita lain yang menjadi bukti bahwa parameter terbaik masing-masing orang itu berbeda. Dan lebih penting adalah kita berada diantaranya dan HARUS memilih diantaranya. Tentu saja yang terbaik!!
Lalu, pertanyaannya adalah:
Baik menurut siapa? Yang universal? Yang kebenarannya mutlak? Yang baik bagi semua orang?
Allah berfirman:
“hai orang-orang beriman, masuklah islam secara kaffah….”
Dalam surat Al Baqarah 216 Allah juga berfirman
“……….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu……..”
Nah looo…
Bagi yang mengaku beragama Islam, jelas tu perintahnya. Bahwa kita semestinya menjadikan islam sebagai manhaj dalam keseluruhan hidup kita (kaffah), atau bahasa sederhana saya Islam kita jadikan bingkai batas kehidupan kita. Kita boleh ngapain aja asalkan masih ada didalam bingkai tersebut. Dan itu jelas berdampak pada pilihan-pilihan sikap hidup kita.
Pada ayat selanjutnya Allah sampaikan bahwa yang baik menurut kita belum tentu baik meurutNya dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk buatNya.
So, dampak dari ke”kaffah”an kita dalam islam tentu saja adalah menjadikan parameter ‘baik’ dalam hidup kita adalah ‘baik’ yang digariskan oleh Allah swt. Bukan keinginan nafsu kita, pilihan kebanyakn orang sekalipun. Tetep madeg jejeg pilih yang “baik” menurut Allah swt
Mulai sekarang, kita jadikan islam sebagai filter dari setiap pilihan-pilihan dalam hidup, biar ridho Allah kita dapatkan. Dan kalau sudah kaya gitu apapun yang kita inginkan, insyaAllah akan dikabulkan.
Selamat mencoba...

Metamorfdiri #2

4
Setiap Orang Inginkan Yang Terbaik Bagi Dirinya

Setiap orang jelas menginginkan yang terbaik akan berpihak pada dirinya sendiri, diakui atau tidak tapi begitulah faktanya. Mulai dari hal yang sangat kecil-kecil sampai hal yang besar tentunya. Makanan, rumah, baju, aktivitas, pekerjaan, sahabat, istri, guru atau apapun yang berelasi dengan diri kita, pasti kita menginginkan yang terbaik buat kita.
Makanan misal, kita akan pilih makanan yang paling baik, yang bergzi lengkap, empat sehat lima sempurna pokoknyalah. Kalau mampu tapi,hehe. Kalau enggak? Tetep dari budget yang kita miliki, kita akan pilihkan yang terbaik. Ya ngga? Harus iya *maksa. Kenapa temen-temen yang pada ngekos tu makan hamper tia[ hari pake tempe? Sederhana, karena budgetnya Cuma cukup buat itu,haha. Kalau punya lebih pasti akan milih yang lebih juga, yang terbaik buat dirinya.
Baju misal ni, tentu akan pilih yang paling baik, entah itu bahannya, harganya, kecocokannya, match atau enggaknya, momen apa, dimana dsb. Bahkan bagi sebagian orang dalam hal memilih baju butuh ritual yang pajaaaag, biar dapat yang “ngeh” degan dirinya. Apalagi buat hadapi momen special, seisi lemari bisa keluar semua, (haha mulai deh lebay). Coba bayangkan seandainya ada seorang perempuan/akhwat milihnya gini, jilbab warna merah, baju warna kuning dan rok warna hijau. Gimana tuh? Bisa disangka traffic light berjalan -_-“. Atau misal dalam agenda pertemuan formal, tiba-tiba kita dating dengan baju kostum hallowen, haha bisa ditendang satpam kita.
Sahabat juga kita pingin yang terbaik, ya ga? Yang bisa ngerti kita, yang selalu ada disaat suka dan duka, yang mau berbagi air mata, yang mau nganter kemana-mana, yang bisa dipinjemin uang kapan saja (mulai ngaco) dsb.
Pekerjaan juga pasti pengen yang terbaik, tempatnya nyaman, kerja ringan, tapi gaji besar, haha. Ya setidaknya tidak membuat batin tersiksalah.
Yang ga lupa dan paling sensitive dibicarakan biasanya soal pasangan, ya kan? Hayoo
Kita jelas pingin yang paling ganteng/cantik, yang pengertian, yang keren, yang kaya, yang sholeh dsb. Walaupun kita sering ga nyadar: kita si pasti mau sama orang kaya gitu tapi emang orang yang perfect gitu mau sama kita??? Nah lo *gludhak.
Sampai ada seorang murid datang ke guru ngajinya dan critanya minta dicarikan istri. Sang muridpun menyampaikan criteria yang diinginkan. Banyaaaak, sholehahlah, pnslah, mapanlah, punya motor, cantik, dsb. Detaiiiill banget. Lalu sang guru ngaji dengan wajah serius menjawab “anakku, kalau ada perempuan yang seperti itu, hmm…. pasti sudah saya lamar dari duluuuu, g ague kasihin eloo”.
Murid: -____-“

Longterm memori

0
yang kalau inget suka bikin ketawa, senyum, tersipu, sedih, kangen, dsb

alhuda lama, masih ditimur, bersekat triplek, dan yang paling khas 'thok...thok...thookkk." lalu ada suara "assalamu'alaikum, ada akh/ukh..... bla bla bla..."
main gitar sambil nyanyi nyanyi sampai ditegut "afwan akh, lagunya tidak akhsan.." emang bukan mba, ini lagu keris patih -__-"
ngerjain orang di FIA
jalan jalan tengah malam, eh dini hari, sampai alun2 kidul, nongkrong lama, trus ke tugu, dsb. tapi tetep makannya di burjo depan kos.
tidur dikamar kos ukuran 3x3 (kayaknya) diis 6 orang.. dah ga jelas bentknya. tahu tahu ada yang ga sengaja kakinya neken dispenser pas di tuas buat ngeluarin air, banjir deh -__-"
jenguk rame rame sahabat yang kecelakaan sampai kakinya di gip, disambut dengan senyum khasnya sambil menyibakkan rambut yang berponi,hehe. pulangnya kasih kenang2an tanda tangan di gip
liga onet
edisi temanggung, PPT, preman-preman tarbiyah, nggrudug indomaret kirain mau apa ternyata nyari toilet -__-"", makan siomay di alun alun, main air dikaki gunung, poto siluet, pulangnya ada yang nylempit ditengah truk gandeng, akhirnya sms lagi istirahat di puskesmas, bersamaan dengan itu ada hp ilang di trans jogja. sip
ga punya kos 3 bulan, tiap hari kerjaannya bawa handuk keliling kos orang numpang tidur dan mandi,he
ngobrol bersama dipuncak lawe sambil ditemani rintik gerimis hujan, diakhiri nyanyian. nice :)
di'pecat' dari wakil presiden rema malah dikasih bunga, hehe malamnya candlelight diner alami alias mati lampu sampai larut, dan endingnya ada puisi cinta :')
pasta api unggun, udah ngumpulin kayu, udah susah payah nyaliin api, 5 menit kemudian.... hujan. :'(
poto boysband di tugu, yang akhirnya gagal lounching
jinggle al huda, ajari aku merasa

sudah banyak episode ternya, terimakasih, dan maaf.

pasti banyak yang terlewat tak tertulis, maklumlah sambil lari nulisnya, mencoba memunculkan memori saja...

ayo tuliskan momen yang lain ya... ntar dikembangkan. jadi novel atau setidaknya kenang-kenangan.
ntar bukunya bisa kita wariskan ke cucu kita masing masing.

:)

Metamorfdiri #1

0
Hidup adalah akumulasi dari pilihan sikap
Ibarat sebuah perjalanan yang bertemu dengan pertigaan, perempatan, perlimaan, perenaman, pertujuan dan seterusnya, lantas kita harus memilih salah satu jalan, dalam kehidupan keseharian, kita senantiasa dihadapkan juga dengan pilihan-pilihan hidup. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai dari pilihan-pilihan kecil sampai pada pilihan-pilihan besar.
Mulai dari bangun pagi, lihat jam itu kita sudah masuk pada pilihan. Akan bangun atau melanjutkan tidur lagi. Kalau milih bangun, maka akan lanjut kepada aktivitas selanjutya yang juga milih, mau gosok gigi atau engga, cuci muka engga, mandi atau enggak, sarapan atau engga, nyetrika baju atau engga, mau berangkat sekolah/kuliah atau enggak, dsb. Yang setiap pilihan itu akan berdampak pada jalan kehidupan. Bisa jangka panjang bisa jangka pedek. Missal ni, pas buka mata, lihat jam nunjuk angka empat, males bangun karena berfikir kepagian trus milih tidur lagi nah ternyata bangun kesiangan jam 6 misal, mangka dampaknya akan mempengaruhi pilihan sikap kita selanjutnya. Karena telat, tidak bisa milih lagi mau sarapan atau enggak, ya bisa si, dengan resiko lebih besar tidak ikut sekolah/kuliah. Contoh lagi, misalnya bangunnya dah pagi tu, trus dihadapkan dengan pilihan mau sarapan atau enggak, ternyata milih enggak sarapan. Ngefek ke kehidupan selanjutnya. Sakit perut akan membuat kehidupan kita jadi berbeda, kelaparan mbikin dikelas ngantuk, ga tau materi, ga memperhatikan dosen atau guru, dimarahi, akhirnya harus minjem catetan, hasil ujian jelek, harus ngulang, dsb. Wah wah wah karena milih ga sarapan bisa ngulang kuliah tahun depan, hehe. Ya agak lebay dikit ga papa deh, tapi itu real, nyata memang seperti itu, bahwa pilihan pilihan kita dalam setiap momen waktu akan berdampak pada kehidupan selanjutnya. Yang lebih besar misalnya adalah ketika kita lulus smp atau sma, lantas harus melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pilihan itu jelas akan berdampak pada masa depan kehidupan.
Hidup kita yang sekarang juga dampak dari pilihan-pilihan sikap kita masa lalu, yang kurus, mungkin karena dulu lebih milih ga suka makan, yang gemuk, mungkin dulu memilih untuk makan banyak dan penuh nutrisi. Yang sekarang pinter dan sekolah/kuliah di tempat terbaik, mungkin karena dulu juga memilih untuk giat belajar, bberusaha keras, yang sekarang belum mendapatkan apa yang dimau, mungkin karena dulu milih enggan berusaha, enggan belajar dsb. Yang jelas, kesemuanya adalah dampa dari pilihan-pilihan sikap kita di masa lalu.
So, masa depan adalah dampak dari pilihan-pilihan sikap kita hari ini. Bagi yang mau masa depannya baik, aka perhatikanlah pilihan-pilihan hari ini.