Recent twitter entries...

Mencintai itu..

5

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيم

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah  Subhanahu wa Ta’ala, supaya kamu mendapat rahmat.  (Qs al-Hujurât/ 49:10)



لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِى
Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri  (bukhori-muslim).


مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَدِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلَ الْجَسَدِالْوَاحِدِ ,إِذَااشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِوَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur.” (al hadits)


Berempati adalah konsekuensi logis atau dampak dari mencintai
mencintai adalah konsekuensi logis atau dampak dari kita berukhuwah
Ukhuwah adalah konsekeunsi logis atau dampak dari kita iman kita kepada Allah

Maka mencintai atau tidak itu bukan pilihan, tetapi kewajiban. tentu saja cinta tanpa reduksi makna. bukan cinta yang dimaknai hubungann pria wanita. tapi cinta yang sebenar-benarnya.
Mencintai berarti memberi sebagia dari kita, berkorban menjadi niscaya
dan mencintai itu menomerduakan diri, merasakan apa yang ia rasa pertamavkali, mengutamakan orang yang dicintai meski harus berkorban diri dan apa yang dimiliki

Mencintai itu bukan kesalahan atau kehinaan, bukan cinta yang salah, cuma terkadang, kita sebagai pemilik rasa yang salah mengelolanya 


Tidak Harus Semuanya Dimulai Dari Orientasi Ideal

3
terkadang keinginan kita untuk berbuat sesuatu, menjadi pending karena idealisme prasyarat yang kita ajukan sendiri. misal orang mau bangun rumah, tetapi dia memberikan syarat pada dirinya sendiri bahwa untuk membangun rumah ia harus punya tabungan 100 juta misal, saat dia sudah punya uang 90 juta, dia tak kunjung memulai membangun, akhirnya yang 90 juta itu ga jadi 100 malah berkurang banyak :D

atau contoh lain, orang mau bisnis rumah makan, pinginnya mak jreng langsung berdiri rumah makan besar, saat modalnya baru cukup untuk sebuah gerobag, alangkah lebih baik memulai dari gerobak itu, idealisme tentang rumah makan besar bertahap. yang penting action dulu..

termasuk dalam hal kita pingin berubah menjadi lebih baik (red: ngaji) atau mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah keagamaan lah. tidak harus kesemuanya dimulai dari niat yang lurus karena Allah swt. walaupun akhirnya harus gitu, semuanya dimuarakan karena dan untuk Allah. tapi tidak harus dimuali dengan idealisme orientasi yang lebih sering membuat orang takut untuk ngaji.

dulu pertama kali saya memulai ngaji, juga bukan karena kesadaran hamba yang banyak dosanya, paska kontemplasi dimalam hari kemudian pagi-paginya berniat untuk ngaji, enggak! ga begitu..
awal mula saya ngaji adalah karena keterpaksaan, begini kisahnya

suatu hari kakak tertua dalam keluarga saya pulang dari perantauannya di bandung. sedikit saya ceritakan bahwa beliau itu orangnya tegas, dan keras. walaupun sebenarnya penyayang :D
suatu hari beliau menghampiri saya dan bertanya "nom, mau ngaji nggak?"
wah bingung deh jawabnya, ngomong mau, males ngejalaninnya, mau ngomong enggak pasti deh kena marah. setelah berdiskusi dengan diri sendiri, akhirnya saya jawab "iya mas, mau"
2 hari berikutnya beliau hadirkan sesosok guru ngaji buat saya, yang akhirnya beliau benar benar menjadi inspirator kehidupan saya, lan kali dalam satu judul sendiri,hehe.
lanjut,
dari sana akhirnya terjadilah ritual rutin berjudul ngaji tiap pekan, saya jalani semua dengan keterpaksaan dan kekhawatiran kalau ga berangkat asti dimarahi kakak.
sampai pada suatu saat terjadi satu hal yang benar benar merubah mindset saya tentang ngaji.

saat itu jadwal rutin ngaji setiap pekan, dan waktu itu juga hujan mengguyur desa saya. wah rasanya maleees banget berangkat, tetapi -sekalilagi- berbekal ketakutan dimarahi kakak itu akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ngaji. setibanya ditempat ngaji,tempatnya dirumah temen ngaji saya, baru ada satu orang. setelah lima belas menitan menunggu diruang tamu, terdengarlah suara motor guru ngaji kami.kami bangkit ke teras untuk menyambut kehadiran beliau, dan disanalah hentakan keras pada hati saya terjadi..
guru ngaji kami-murobbi kami menyebutnya. membuka mantel dan helmnya (sampai sekarang saya masih begitu ingat ekspresi beliau) lantas dengan tulus beliau melihat ke arah kami dan tersenyum, indah sekali senyumnya.
ya dan waktu itu saya benar-benar terhenyak, ditengah guyuran hujan deras, guru ngaji saya yang butuh waktu setengah jam untuk sampai di tempat ngaji saya begitu bersemangat menghadiri forum itu. siapa yang butuh?? bukankah saya yang butuh?? lantas kenapa hanya berpindah seratus meter dari rumah untuk berangkat ngaji saya begitu malas, sementara murobi saya..... subhanallah....
diskusi panjang terjadi dalam nurani saya.. pingin menangis rasanya kalau inget momen itu..
sejak saat itu, saya berjanji bahwa seberat apapun saya tidak akan pernah tidak berangkat ngaji-red: liqo-

sahabat yang berbahagia, tidak harus semuanya dimulai dengan orientasi ideal, saat kita punya niat baik, segera take action!!
jangan tidak bersedekah karena takut tidak ikhlas, jangan tidak sholat karena takut riya, jangan tidak ngaji karena takut mengharap doi. mulai saja! berniat dan mulai!
take action and miracle hapen..
insyaAllah langkah kita untuk memulai (action)adalah tahap pertama untuk menuju pada orientasi ideal..

Bagaimana Rasanya? (sebuah analogi)

4
Bagaimana rasanya...

ketika kita suatu saat menemukan sebuah lahan non produktif, yang berantakan, acak-acakan, atau mungkin sederhananya tidak sesuai dengan idealisme yang kita miliki.
lantas dengan seluruh daya upaya yang kita miliki,kita berusaha merubah sebuah lahan itu menjadi lahan yang sesuai dengan idialisme kita..

kita tebang pohon-pohon tua yang sudah tak bermanfaat lagi, kita bersihkan seluruh sampah-sampah yang berserakan, kita basmi seluruh benalu-benalu atau virus-virus dan seluruh penyakit yang menjakit di lahan itu, kita cangkul, meratakan tanah, mencabut rumput liar dan sebagainya..

dalam prosesnya tentu saja tidak mulus, kelelahan yang sangat, air mata karena menahan sakit, bahkan tak jarang darah mengalir karena luka yang diderita. lelah karena begitu banyak yang harus diakukan, menebang pohon-pohon besar dan sebagainya, menangis karena harus bertemu dengan hal-hal diluar prasangka dan persepsi perasaan yang menyakitkan, berdarah-darah karena mungkin kecelakaan atau mungkin karena memang harus berhadapan dengan tantangan luar. bertemu dengan binatang buas, atau duri-duri yang sengaja menjabak kita agar terluka.

tapi diantara kesemua itu, kita tetap tekun, gigih , istiqomah, merawat, mengolah lahan tersebut. dengan satu cita-cita bahwa, ya kelak dari lahan itu akan tumbuh pepohonan, dedaunan, bunga-bunga, yang kesemuanya akan mewarnai dunia.

seiring pengorbanan dan perjuangan yang berkompetisi dengan bergulirnya waktu, akhirnya lahan itupun siap untuk ditanami. senyum, ya tersenyum pasti. lahan porak poranda, sekarang siap untuk menjadi ruang tanam mimpi..
lantas kita tanam benih tumbuhan, buah, bunga. kita semai dengan cinta...
setiap hari kita datangi, kita sirami, kita rawat, kita beri perhatian bahkan lebih dari memperhatikan diri kita sendiri..
manakala ada benalu, atau ada ancaman bagi masadepan benih-benih itu, kita sigap, kita segera ambil langkah preventif, atau dengan tegas kita akan basmi seluruh ancaman itu..

hari demi hari, bulan demi bulan, akhirnya benih itu tumbuh subur, indah dan mengindahkan, sejuk, gemerlap mewarna dunia.. ya, itulah yang sungguh diharapkan ketika awal mangayun cangkul mengolah lahan yang berantakan di awal..
ya, lahan itu sekarang berubah menjadi perkebunan indah, taman bunga penuh warna, dan hijau penyejuk udara.. tak ada yang tidak suka melihatnya...

bagaimana rasanya, seandainya lahan itu direbut orang lain, justru orang lain yang menuai hasilnya, orang lain! benar-benar orang lain.. bukan anak-keturunan kita,atau orang-orang satu visi dengan kita. tapi orang lain, yang bahkan tidak merasakan rasanya berdarah-darah merawatnya. hanya orang lewat yang terpesona dengan keindahannya,lantas dengan otoritas yang dimiliki, atau pesona yang dimiliki dengan seenaknya, ia rebut lahan indah itu..

bagaimana rasanya...

bertanya kembali

2

suatu ketika dalam sebuah kajian ada seorang akhwat bertanya kepada narasumber:

"ustad, saya seorang yang rutin menjalankan sholat malam, sholat duha, dan puasa. insyaAllah saya melakukannya rutin setiap momen waktu. tetapi persoalannya adalah akhir-akhir ini saya tidak merasakan hal yang saya lakukan tersebut tidak lebih dari rutinitas belaka, tanpa ruh sama sekali, sehingga menjadikan saya jenuh melakukannya, kira-kira apa penyebabnya ustad? dan bagaimana solusinya?

lantas dijawab oleh ustad yang menjadi narasumber

"terkadang kita perlu memperbaharui niat dalam menjalankan kesemua rutinitas itu, untuk siapa si sebenarnya kita melakukan rutinitas itu, jangan-jangan hanya untuk kepentingan dunia semata. dan yang tak kalah penting adalah kita perlu membaca ulang tentang faedah atau manfaat-manfaat dari rutinitas yang kita lakukan. jadi kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan'

kira-kira seperti itulah potongan kisah lampau yang terjadi sekitar 4 tahunan yang lalu, tapi masih teringat jelas dalam memoriku. terutama pada bagian "jadi kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan"

ya, memahami setiap apa yang kita kerjakan, apa, bagaimana, untuk siapa, dan apa manfaatnya..

pernahkah terbersit dalam hati kita kenapa kita hidup? kenapa kita islam? kenapa kita kuliah? kenapa kita ngaji? dan sebagainya. pernah?

atau kita sekedar menjalani kesemuanya yang terjadi dalam hidup kita menjadi rutinitas belaka? bukan karena kefaaman utuh dalam diri kita?

rutinlah berdialog dengan diri kita masing-masing, tentang apa yang sudah, sedag dan akan kita lakukan. sekali lagi, supaya kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan..


Metamorfdiri #4

0
Kita tidak sedang berada pada lingkungan yang mendukung kita untuk jadi baik

“mas, sekarang aku aktiv di kegiatan mas, fokusnya dalam ranah pemberdayaan perempuan”
Ucap salah seorang teman, ya perbincangan yang diawali dengan obrolan ringan sampai temanku yang satu ini berucapa menceritakan aktivitas sosialnya. Dan tentu saja hal itu mengundang rasa ingin tahuku dan terjadilah perbincangan:
Aku : “wah seru tuh, bisa aktivitas di ranah social”
Temenku : “biasaa aja mas, dari pada di kos nganggur” sambil menyimpulkan senyum
Aku : “trus apa aktivitasnya di kegiatan itu?”
Temenku : dengan wajah bersemangat dia sampaikan “setiap malam minggu mas, kami akan pergi ke tempat-tempat yang dianggap sebagai lading orang pacaran dan berbuat termasuk tempat prostitusi mas”
Tambah penasaran aku
Aku : “trus apa yang kalian lakukan disana? Apa member penyuluhan? Atau dskusi? Atau apa?
Temenku : “bukan mas, itu standar. Tau apa yang kami lakukan?”
Aku : “apa?”
Temenku : “ kami bagi-bagi kondom!”
Aku : *maksa senyum
Temenku : “bagi kami mas, seks bebas itu sudah tidak bisa di cegah. Yang bisa dicegah adalah dampaknya mas, dan hasil surve kami membuktikan bahwa dampak yang paling ditakutkan oleh seorang yang melakukan seks bebas itu bukan HIV AIDS mas, tapi kehamilan. Oleh karena itulah, kami turun untuk membantu agar dampak kehamilan itu bisa direduksi”
MIRIS!!
Tapi begitulah realita lingkungan kita, yang barusan adalah kisah nyata bahwa ada sekelompokorang yang rela bersusah dalam rangka melanggengkan sebuah tindakan asusila bernama free sex, dengan alas an yang sangat manusiawi sebenarnya tetapi salah.
Miris, tapi begitulah realita lingkungan kita
Lihatlah disekeliling kita,
Warnet misalnya, sudah kaya hotel dengan tariff termurah, setiap bilik tertutup rapat bahkan bisa dikunci dari dalam, lengkap dengan fasilitas yang nyaman didalam bilik itu. Yang lebih parah bahka ada sebagian yang menyediakan link ke situs-situs yang tidak semestinya disaksikan. Jangan lupa, Indonesia adalah Negara terbesar ke 3 pengakses situs porno…
Itulah lingkungan kita, dan kita ada di dalamnya.
Contoh lain misal dalam ujian nasional, cek secara riset objektif berapa persen jumlah siswa yang tidak nyontek? Apa ada 10 % atau malah Cuma 1% ? malah ga ada kayaknya. Gimana ga nyontek, orang gurunya saja menganjurkan, sistemnya dibuat agar mempermudah proses nyontek tersebut, bahkan triknya pun diajari. Semuanya terkalahkan dengan ketakutan ketidaklulusan termasuk integritas diri!
Ya, pada akhirnya lulus, lulus uujian nasional sekaligus lulus mengalahkan integritas dirinya. Sukses dengan kelulusan dengan cara menghancurkan masa depanya.
Miris, tapi itulah lingkungan kita.
Semua akhlak baik rasanya harus tergusur kalau kita mau eksis dipanggung kehidupan.
Kuliah misal, dari proses masuk saja sudah ada peluang ketidak jujuran, peluang untuk curang, dengan cara “membeli” satu status mahasiswa. Setelah jadi mahasiswa juga banyak peluang ketidak jujuran, titib absen, nyontek pas ujian, mbayar orang buat ngerjain tugas, bahkan skripsi pun punya tukang. Bahkan tidak sedikit yang status sarjananya adalah melalui transaksi pasar bukan siding ilmiah. Sekali lagi miris.
Atau kalaupun seorang mahasiswa yang lurus sejak masuk sampai kelulusannya, dan setelahnya dia butuh pekerjaan, maka system(red:lingkungan) lagi-lagi memaksa dia untuk berbuat curang. Untuk masuk perusahaan, atau menjadi PNS selalu ada calo yang menjanjikan kelulusan dengan harga berjenjang bahkan. masyaAllah…
Percaya atau tidak tapi begitulah realita yang terjadi disekeliling kita.
Dan saya meyakini setiap kita pasti bisa menceritakan atau menguak kisah-kisah lain yang lebih miris, yang itu membuat kita bersepakat atau tidak sepakat harus menganggukan kepala bahwa kita sedang berada pada lingkungan yang tidak mendukung kita untuk menjadi baik.

Lantas?? Apa yang harus kita lakukan??
--bersambung#5--

Prayboy

0

keren ni gambar

Metamorfdiri #3

0
Parameter ‘baik’ itu beda beda

Jadi jelas, bahwa setiap kita pasti menginginkan pilihan yang terbaik. Persoalannya adalah baik itu yang bagaimana? Pake parameter apa. Karena ternyata baik bagi orang yang satu bisa jadi BEDA dengan baiknya orang lain.
Makan daging kambing bagi sebagian orang adalah salah satu hal terbaik, kandungan protein banyak dan bisa menaikan tekanan darah. Tapi bagi orang hipertensi? Wahana di dufan misal, yang high impact, bisa jadi satu permainan yang menantang dan menyenangkan, tapi bagi para pengidap penyakit jantung? *bunuh diri kali ya….
Cantik bagi si A belum tentu buat si B, cocok buat si A belum tentu buat si C. nah nah nah,
Pernah punya pengalaman menarik, seseorang datang dengan menggebu-gebu, keringat bercucuran mengalir seperti kran di bak (lebay) lantas bercerita tentang satu hal yang bagi dia sangat menarik,
Teman: “mas ayo tak ajak pergi, refresing sekaligus cari ilmu. Seruuuu pokoknya”
Saya: “wah kemana? Sepertinya menarik tu”
Temen: “tentu menarik mas, kita mau berbicara tentang masa depan kita, biarpun masih sma kita semestinya sudah ga bergantung sama orang tua, dan bisa menentukan sendiri arah tujuan hidup kita (muka bijak)”
Saya: “pingin si, tapi maaf ada acara lain, kapan-kapan deh, ada saatnya nanti, hehe (diplomatis)”
Temen: “nyesel ntar lho mas, dia Cuma datang hari ini doang”
Saya: “dia? Dia siapa?”
Temen: “ya yang mau ngasih ilmu sama kita, orangnya keren, kaya, mobilnya bagus, sip deh pokoknya”
Saya: *mikir
Temen: ayolah mas… (muka memelas)
Saya: karena ga tega akhirnya ngomong “yuk deh,”
Temen: *jingkrak-jingkrak
Akhirnya kami berangkat ke suatu tempat yang agak horor,hoho
Setelah 15 menit perjalanan akhirnya sampai tempat tujuan…
Pelan-pelan masuk ke rumah bertemu dengan orang yang dijanjikan, hening karena hanya bertiga disebuah ruang yang ‘horor itu. lalu apa yang terjadi?....
Deng deng deng --------presentasi mlm--------- -_-“
Setelah presentasi lama, samapi selesai. Diakhir acara saya ngomong sama temen saya
Saya: “trimaksih sudah review materi presentasi”
Temen: “review????”(muka sangat penasaran)
Saya: (diam dan menyodorkan kartu tanda anggota mlm yang baru dipresentasikan)
Temen: *tepok jidad *glodhak!!!!
----------kisahnyatadengansedikitrekayasa---------------
Bagi temen saya, saya adalah target terbaik, tapi bagi saya? -___-“

Bagi sebagian orang, bir, wiski, daging babi, dsb adalah hal terbaik dan ternikmat, tapi bagi sebagian orang yang lain malah menjadi laknat. Bagi sebagian orang pacaran, ciuman, sampai freesex adalah surga sebelum surga, bagi sebagian orang yang lain adalah neraka berbalut indah fatamorgana. Bagi sebagian orang, nyontek, korupsi, menipu adalah shortcut kesuksesan, bagi sebagian orang yang lain adalah jurang kehancuran.
Barangkali masih ada banyak cerita lain yang menjadi bukti bahwa parameter terbaik masing-masing orang itu berbeda. Dan lebih penting adalah kita berada diantaranya dan HARUS memilih diantaranya. Tentu saja yang terbaik!!
Lalu, pertanyaannya adalah:
Baik menurut siapa? Yang universal? Yang kebenarannya mutlak? Yang baik bagi semua orang?
Allah berfirman:
“hai orang-orang beriman, masuklah islam secara kaffah….”
Dalam surat Al Baqarah 216 Allah juga berfirman
“……….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu……..”
Nah looo…
Bagi yang mengaku beragama Islam, jelas tu perintahnya. Bahwa kita semestinya menjadikan islam sebagai manhaj dalam keseluruhan hidup kita (kaffah), atau bahasa sederhana saya Islam kita jadikan bingkai batas kehidupan kita. Kita boleh ngapain aja asalkan masih ada didalam bingkai tersebut. Dan itu jelas berdampak pada pilihan-pilihan sikap hidup kita.
Pada ayat selanjutnya Allah sampaikan bahwa yang baik menurut kita belum tentu baik meurutNya dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk buatNya.
So, dampak dari ke”kaffah”an kita dalam islam tentu saja adalah menjadikan parameter ‘baik’ dalam hidup kita adalah ‘baik’ yang digariskan oleh Allah swt. Bukan keinginan nafsu kita, pilihan kebanyakn orang sekalipun. Tetep madeg jejeg pilih yang “baik” menurut Allah swt
Mulai sekarang, kita jadikan islam sebagai filter dari setiap pilihan-pilihan dalam hidup, biar ridho Allah kita dapatkan. Dan kalau sudah kaya gitu apapun yang kita inginkan, insyaAllah akan dikabulkan.
Selamat mencoba...