Recent twitter entries...

Belajar Ketatan dari Hudzaifah (telik sandi terbaik sepanjang zaman)

1
"aku bisa saja membunuh abu sofyan karena dia ada tepat dihadapanku. Tapi aku memilih TAAT pada Rosul yg memerintahkanku hanya sebagai telik sandi, tugasku hanya mencari informasi" itulah ungkapan Hudzaifah ibnul yaman, telik sandi terbaik Rosulullah, usai menunaikan sebuah tugas berat yang diberikan oleh Rosul.


Ya, pada waktu itu, adalah perang khandaq. perang yang amat mencekam bagi kaum muslim. terdesak di kota madinah, segala penjuru sudah di kepung dan hanya bisa bertahan bahkan dengan sumber daya dan kesediaan pangan yang sangat terbatas. Takut, khawatir, tegang, ditambah kondisi fisik yang semakin lemah karena lapar semakin menambah suasana mencekam di tengah peperangan yang terjadi di bulan syawal tahun 5 hijriah atau 627 masehi

Ditengah suasana menakutkan itulah Rosulullah memberikan penawaran yang luar biasa kepada para sahabatnya. surga. "Siapa yang berani menjadi telik sandi dan masuk kedalam jantung pertahanan musuh, lantas memberikan informasi kondisi musuh kepada kita, maka Aku akan memohon kepada Allah supaya ia menjadi temanku di surga nanti" sungguh tawaran yang menakjubkan. 

Namun tiada satupun yang berani menyambut tawaran itu, bahkan umar yang terkenal beranipun hanya diam tertunduk. bisa dibayangkan bagaimana suasana penuh tekanan yang sedang dihadapi oleh kaum muslimin sampai bisa membuat kader-kader terbaik Rosul pun tak berani menyambut seruan surga.

Karena tak satupun orang dari sahabat yang berani menunaikan tawaran tersebut, maka Rosul menunjuk Hudzaifah untuk berangkat.  pesan Rosull adalah:

Toples Prioritas

1
Setelah beberapa hari meninggalkan jogja dan jauh dari akses internet, akhirnya bisa ngblog lagi :)

Hari ini mau sampaikan tulisan tentang prioritas, cerita yang pernah dulu saya dengar dalam sebuah forum dan nampaknya menarik untuk dibagi.. berikut ceritanya

Dalam sebuah kelas filsafat seorang dosen membawa sebuah toples, bola golf, kelereng, pasir dan 2 gelas kopi.. lalu ia memulai kulaihnya sore itu..

Dosen tersebut memasukan bola golf kedalam toples sampai penuh. lantas ia bertanya pada mahasiswanya "apa toples ini sudah penuh?" mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Kemudian dosen itu memasukan kelereng kedalam toples tersebut, tentu saja mengisi ruang kosong disela-sela bola golf. sampai penuh. ia bertanya kembali pada mahasiswanya "apa toples ini sudah penuh?" mereka mengangguk setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya sang dosen memasukan pasir kedalam toples tersebut, nah tu, tentu saja kembali mengisi sela sela kosong yang tersisa dari bola golf dan kelereng yang sudah masuk duluan. sampai penuh... dosen bertanya lagi kepada mahasiswa "apa toples ini sudah penuh?" kali ini mereka tertawa, tanda setuju tentu saja...

Belum selesai tawa mahasiswanya, dosen itu mengambil 2 gelas kopi lantas menuangkan kedalam toples.. mengisi ruang kosong yang masih tersisa. dan itu menghentikan tawa di kelas, berubah menjadi wajah bengong setengah kagum dan kaget. dan tak perlu dosen itu bertanya lagi untuk mendapatkan jawaban setuju bahwa toples ini sudah penuh..

Dengan wibawa, dosen itu berkata "toples ini ibarat kehidupanmu, bola golf adalah hal-hal utama dalam kehidupan kalian, kelereng adalah hal sekunder dalam kehidupan kalian dan pasir adalah prioritas berikutnya dalam kehidupan kalian. pilah-pilahlah hal tersebut, lalu urutkan untuk mengisi kehidupan kalian. isilah dulu dengan hal-hal yang lebih utama, maka akan tersisa untuk hal prioritas berikutnya seperti bola golf menyisakan ruang untuk kelereng, kelereng menyisakan ruang untuk pasir, jangan sampai kebalik, kehidipan kalian isi dengan hal sepele, jika begitu maka tidak akan tersisa ruang untuk hal-hal yang lebih utama. jika toples kau isi dengan pasir dulu, maka tidak tersisa ruang untuk kelereng, jika kelereng dulu maka tidak akan tersisa ruang untuk bola golf" 

heniing....

"maaf prof, apa gunanya kopi yang tadi anda tuangkan" tanya seorang mahasiswa

"hahaha baguslah kau tanya itu, mahasiswaku kopi itu sebagai tanda bahwa sepenuh, seberat, atau serumit  apapun kehidupan kita, pasti selalu ada waktu untuk minum bersama orang-orang tercinta dalam kehidupan kita" berakhir kelas itu tawa..

dream team #1

4
Menjadi sebuah tim dengan siapapun dalam kehidupan adalah hal yang niscaya dalam kehidupan ini. Mau atau tidak kita harus melakukannya, ya  menjadi sebuah tim. karena setiap orang dengan yang lainnya saling membutuhkan untuk bisa bertahan hidup, karena sudah fitrahnya manusia tidak akan mempu menjalani kehidupannya sendiri.

Pernah melihat orang yang hidup sendirian?
Tarzan..
Benarkah? apa sungguh ada orang seperti tarzan?
kalaupun ia,  dia juga tak hidup sendiri,karena ia ditemani oleh para binatang..

Manusia adalah makhluk sosial, yang tentu saja mengharuskan dirinya beinteraksi satu sama lain. tata urutan yang biasanya terjadi dalam interaksi adalah: Mulai dari awal, bertemu dengan orang yang asing, berkenalan, berbincang, bertukar gagasan, menyamakan tujuan, berbagi kepentingan, berbagi beban, berbagi peran, dan akhirnya bekerjasama merealisasikan. kemudian evaluasi dan saling mengambil keuntungan. 
kesemuanya saat dilakukan, sadar, atau tidak sadar. sebenarnya

Sebuah anekdot dari buku Said Hawwa

1
Beberapa waktu yang lalu membaca sebuah buku berjudul "Allah Subhanahu Wa Ta'ala" karya Said Hawa bin Muhammad Dib Hawa. buku ini berisi tentang tema tauhid.

Di bagian-bagian awal, ulama yang lahir 1935 dan meninggal tepat lima hari setelah kelahiran saya(pemilik blog) atau 9 maret 1989 menyampaikan sebuah anekdot yang cukup menarik, dan hari ini ingin saya bagi. tentu saja dengan bahasa yang sudah saya kemas ulang tanpa menghilangkan substansi utamanya. begini kisahnya..

Semampumu...

5
Pada suatu hari di sebuah Universitas Islam terkemuka di dunia, seorang Profesor sedang memberi kuliah tafsir kepada mahasiswanya. hari itu materi yang dakan disampaikan adalah tentang beribadah kepada Allah dengan mastatho'tum, semampu kamu.

"baik saudara-saudara,  hari ini kita akan mencoba belajar tentang konsep "mampu" atau mastatho'tum. biar lebih mengena, hari ini ga usah teoritis, kita praktek saja" begitu beliau mengawali kuliahnya..

setelah itu Profesor tersebut mengajak semua mahasiswanya kesebuah lapangan bola berstandar internasional (kebayang luasnya). lalu sesampainya disana Profesor itu memberikan instruksi kepada mahasiswanya:
"baik saudara-saudara, saya yakin anda bertanya-tanya kenapa kita kesini, tapi insyaAllah semua akan terjawab di akhir kuliah kita. sekarang saya minta semua dari kalian termasuk saya, kita semua akan berlari mengitari lapangan bola ini!"

"Berapa putaran prof" sahut salah satu mahasiswanya

dijawab singkat oleh sang profesor "Mastatho'tum!" atau dalam bahasa indonesia "Semampu Kamu"

Syuro oh Syuro.. (sebuah refleksi)

2
Setelah sekian banyak dinamika yang terjadi, setelah semua kelelahan hati yang terlalui, setelah semua janji yang barangkali pernah terciderai, setelah semua mekanisme baik yang sudah maupun yang belum disepakati, jadi pingin menukilkan tulisan ustad Anis Mata tentang syuro, lebih tegasnya tentang sikap ketika kita tidak sepakat dengan hasil syuro. teruntuk semua saudaraku yang sampai sekarang juga masih belum berterima dengan hasil syuro. 
Menurut beliau (Anis Mata) dalam buku menikmati demokrasi, setidaknya ada 4 hal yang perlu dicermati:

Cari Huruf atau Nilai

5
Berhubung yang punya blog adalah seorang (masih) mahasiswa, dan sekarang ini musim-musimnya setiap mahasiswa liburan sambil menunggu sambil debar-debar hasil yang tertoreh dalam DHS yang sudah dijalani satu semester yang lalu, maka akan sedikit berceloteh (via tulisan tentunya) tentang fenomena pasca ujian.

Suatu saat di dream house, beberapa teman berkumpul mengerubungi laptop dengan ekspresi yang macem-macem, nano nano tampaknya. karena penasaran hebohnya, jadi saya mendekat dan memperhatikan apa yang sebenarnya nampak di layar laptop tersebut, ternyata yang terlihat adalah halaman nilai dalam sebuah alamat situs www.siakad.uny.ac.id, wah pantas saja seru (sambil merenungi sejenak, sudah berapa lama ya ga buka situs itu :D)

yang menarik adalah cerita-cerita heboh setelah itu,

Parade Pertanggungjawaban Amanah (sebuah kritik)

4
Menjadi satu sebuah kewajiban atau mungkin lebih tepat disebut ritual rutin (konteks kampus) bahwa seetiap akhir kepengurusan atau amanah, maka ada satu bentuk pertanggung jawaban yang harus dihadirkan, baik secara tertulis maupun lisan. secara istilah disebut dengan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). dan forumnya biasanya berbentuk sidang dengan nama beragam.

Sedikit saya ceritakan tentang ritual rutin tersebut...

Mencintai itu..

5

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيم

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah  Subhanahu wa Ta’ala, supaya kamu mendapat rahmat.  (Qs al-Hujurât/ 49:10)



لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِى
Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri  (bukhori-muslim).


مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَدِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلَ الْجَسَدِالْوَاحِدِ ,إِذَااشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِوَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur.” (al hadits)


Berempati adalah konsekuensi logis atau dampak dari mencintai
mencintai adalah konsekuensi logis atau dampak dari kita berukhuwah
Ukhuwah adalah konsekeunsi logis atau dampak dari kita iman kita kepada Allah

Maka mencintai atau tidak itu bukan pilihan, tetapi kewajiban. tentu saja cinta tanpa reduksi makna. bukan cinta yang dimaknai hubungann pria wanita. tapi cinta yang sebenar-benarnya.
Mencintai berarti memberi sebagia dari kita, berkorban menjadi niscaya
dan mencintai itu menomerduakan diri, merasakan apa yang ia rasa pertamavkali, mengutamakan orang yang dicintai meski harus berkorban diri dan apa yang dimiliki

Mencintai itu bukan kesalahan atau kehinaan, bukan cinta yang salah, cuma terkadang, kita sebagai pemilik rasa yang salah mengelolanya 


Tidak Harus Semuanya Dimulai Dari Orientasi Ideal

3
terkadang keinginan kita untuk berbuat sesuatu, menjadi pending karena idealisme prasyarat yang kita ajukan sendiri. misal orang mau bangun rumah, tetapi dia memberikan syarat pada dirinya sendiri bahwa untuk membangun rumah ia harus punya tabungan 100 juta misal, saat dia sudah punya uang 90 juta, dia tak kunjung memulai membangun, akhirnya yang 90 juta itu ga jadi 100 malah berkurang banyak :D

atau contoh lain, orang mau bisnis rumah makan, pinginnya mak jreng langsung berdiri rumah makan besar, saat modalnya baru cukup untuk sebuah gerobag, alangkah lebih baik memulai dari gerobak itu, idealisme tentang rumah makan besar bertahap. yang penting action dulu..

termasuk dalam hal kita pingin berubah menjadi lebih baik (red: ngaji) atau mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah keagamaan lah. tidak harus kesemuanya dimulai dari niat yang lurus karena Allah swt. walaupun akhirnya harus gitu, semuanya dimuarakan karena dan untuk Allah. tapi tidak harus dimuali dengan idealisme orientasi yang lebih sering membuat orang takut untuk ngaji.

dulu pertama kali saya memulai ngaji, juga bukan karena kesadaran hamba yang banyak dosanya, paska kontemplasi dimalam hari kemudian pagi-paginya berniat untuk ngaji, enggak! ga begitu..
awal mula saya ngaji adalah karena keterpaksaan, begini kisahnya

suatu hari kakak tertua dalam keluarga saya pulang dari perantauannya di bandung. sedikit saya ceritakan bahwa beliau itu orangnya tegas, dan keras. walaupun sebenarnya penyayang :D
suatu hari beliau menghampiri saya dan bertanya "nom, mau ngaji nggak?"
wah bingung deh jawabnya, ngomong mau, males ngejalaninnya, mau ngomong enggak pasti deh kena marah. setelah berdiskusi dengan diri sendiri, akhirnya saya jawab "iya mas, mau"
2 hari berikutnya beliau hadirkan sesosok guru ngaji buat saya, yang akhirnya beliau benar benar menjadi inspirator kehidupan saya, lan kali dalam satu judul sendiri,hehe.
lanjut,
dari sana akhirnya terjadilah ritual rutin berjudul ngaji tiap pekan, saya jalani semua dengan keterpaksaan dan kekhawatiran kalau ga berangkat asti dimarahi kakak.
sampai pada suatu saat terjadi satu hal yang benar benar merubah mindset saya tentang ngaji.

saat itu jadwal rutin ngaji setiap pekan, dan waktu itu juga hujan mengguyur desa saya. wah rasanya maleees banget berangkat, tetapi -sekalilagi- berbekal ketakutan dimarahi kakak itu akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ngaji. setibanya ditempat ngaji,tempatnya dirumah temen ngaji saya, baru ada satu orang. setelah lima belas menitan menunggu diruang tamu, terdengarlah suara motor guru ngaji kami.kami bangkit ke teras untuk menyambut kehadiran beliau, dan disanalah hentakan keras pada hati saya terjadi..
guru ngaji kami-murobbi kami menyebutnya. membuka mantel dan helmnya (sampai sekarang saya masih begitu ingat ekspresi beliau) lantas dengan tulus beliau melihat ke arah kami dan tersenyum, indah sekali senyumnya.
ya dan waktu itu saya benar-benar terhenyak, ditengah guyuran hujan deras, guru ngaji saya yang butuh waktu setengah jam untuk sampai di tempat ngaji saya begitu bersemangat menghadiri forum itu. siapa yang butuh?? bukankah saya yang butuh?? lantas kenapa hanya berpindah seratus meter dari rumah untuk berangkat ngaji saya begitu malas, sementara murobi saya..... subhanallah....
diskusi panjang terjadi dalam nurani saya.. pingin menangis rasanya kalau inget momen itu..
sejak saat itu, saya berjanji bahwa seberat apapun saya tidak akan pernah tidak berangkat ngaji-red: liqo-

sahabat yang berbahagia, tidak harus semuanya dimulai dengan orientasi ideal, saat kita punya niat baik, segera take action!!
jangan tidak bersedekah karena takut tidak ikhlas, jangan tidak sholat karena takut riya, jangan tidak ngaji karena takut mengharap doi. mulai saja! berniat dan mulai!
take action and miracle hapen..
insyaAllah langkah kita untuk memulai (action)adalah tahap pertama untuk menuju pada orientasi ideal..

Bagaimana Rasanya? (sebuah analogi)

4
Bagaimana rasanya...

ketika kita suatu saat menemukan sebuah lahan non produktif, yang berantakan, acak-acakan, atau mungkin sederhananya tidak sesuai dengan idealisme yang kita miliki.
lantas dengan seluruh daya upaya yang kita miliki,kita berusaha merubah sebuah lahan itu menjadi lahan yang sesuai dengan idialisme kita..

kita tebang pohon-pohon tua yang sudah tak bermanfaat lagi, kita bersihkan seluruh sampah-sampah yang berserakan, kita basmi seluruh benalu-benalu atau virus-virus dan seluruh penyakit yang menjakit di lahan itu, kita cangkul, meratakan tanah, mencabut rumput liar dan sebagainya..

dalam prosesnya tentu saja tidak mulus, kelelahan yang sangat, air mata karena menahan sakit, bahkan tak jarang darah mengalir karena luka yang diderita. lelah karena begitu banyak yang harus diakukan, menebang pohon-pohon besar dan sebagainya, menangis karena harus bertemu dengan hal-hal diluar prasangka dan persepsi perasaan yang menyakitkan, berdarah-darah karena mungkin kecelakaan atau mungkin karena memang harus berhadapan dengan tantangan luar. bertemu dengan binatang buas, atau duri-duri yang sengaja menjabak kita agar terluka.

tapi diantara kesemua itu, kita tetap tekun, gigih , istiqomah, merawat, mengolah lahan tersebut. dengan satu cita-cita bahwa, ya kelak dari lahan itu akan tumbuh pepohonan, dedaunan, bunga-bunga, yang kesemuanya akan mewarnai dunia.

seiring pengorbanan dan perjuangan yang berkompetisi dengan bergulirnya waktu, akhirnya lahan itupun siap untuk ditanami. senyum, ya tersenyum pasti. lahan porak poranda, sekarang siap untuk menjadi ruang tanam mimpi..
lantas kita tanam benih tumbuhan, buah, bunga. kita semai dengan cinta...
setiap hari kita datangi, kita sirami, kita rawat, kita beri perhatian bahkan lebih dari memperhatikan diri kita sendiri..
manakala ada benalu, atau ada ancaman bagi masadepan benih-benih itu, kita sigap, kita segera ambil langkah preventif, atau dengan tegas kita akan basmi seluruh ancaman itu..

hari demi hari, bulan demi bulan, akhirnya benih itu tumbuh subur, indah dan mengindahkan, sejuk, gemerlap mewarna dunia.. ya, itulah yang sungguh diharapkan ketika awal mangayun cangkul mengolah lahan yang berantakan di awal..
ya, lahan itu sekarang berubah menjadi perkebunan indah, taman bunga penuh warna, dan hijau penyejuk udara.. tak ada yang tidak suka melihatnya...

bagaimana rasanya, seandainya lahan itu direbut orang lain, justru orang lain yang menuai hasilnya, orang lain! benar-benar orang lain.. bukan anak-keturunan kita,atau orang-orang satu visi dengan kita. tapi orang lain, yang bahkan tidak merasakan rasanya berdarah-darah merawatnya. hanya orang lewat yang terpesona dengan keindahannya,lantas dengan otoritas yang dimiliki, atau pesona yang dimiliki dengan seenaknya, ia rebut lahan indah itu..

bagaimana rasanya...

bertanya kembali

2

suatu ketika dalam sebuah kajian ada seorang akhwat bertanya kepada narasumber:

"ustad, saya seorang yang rutin menjalankan sholat malam, sholat duha, dan puasa. insyaAllah saya melakukannya rutin setiap momen waktu. tetapi persoalannya adalah akhir-akhir ini saya tidak merasakan hal yang saya lakukan tersebut tidak lebih dari rutinitas belaka, tanpa ruh sama sekali, sehingga menjadikan saya jenuh melakukannya, kira-kira apa penyebabnya ustad? dan bagaimana solusinya?

lantas dijawab oleh ustad yang menjadi narasumber

"terkadang kita perlu memperbaharui niat dalam menjalankan kesemua rutinitas itu, untuk siapa si sebenarnya kita melakukan rutinitas itu, jangan-jangan hanya untuk kepentingan dunia semata. dan yang tak kalah penting adalah kita perlu membaca ulang tentang faedah atau manfaat-manfaat dari rutinitas yang kita lakukan. jadi kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan'

kira-kira seperti itulah potongan kisah lampau yang terjadi sekitar 4 tahunan yang lalu, tapi masih teringat jelas dalam memoriku. terutama pada bagian "jadi kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan"

ya, memahami setiap apa yang kita kerjakan, apa, bagaimana, untuk siapa, dan apa manfaatnya..

pernahkah terbersit dalam hati kita kenapa kita hidup? kenapa kita islam? kenapa kita kuliah? kenapa kita ngaji? dan sebagainya. pernah?

atau kita sekedar menjalani kesemuanya yang terjadi dalam hidup kita menjadi rutinitas belaka? bukan karena kefaaman utuh dalam diri kita?

rutinlah berdialog dengan diri kita masing-masing, tentang apa yang sudah, sedag dan akan kita lakukan. sekali lagi, supaya kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan..


Metamorfdiri #4

0
Kita tidak sedang berada pada lingkungan yang mendukung kita untuk jadi baik

“mas, sekarang aku aktiv di kegiatan mas, fokusnya dalam ranah pemberdayaan perempuan”
Ucap salah seorang teman, ya perbincangan yang diawali dengan obrolan ringan sampai temanku yang satu ini berucapa menceritakan aktivitas sosialnya. Dan tentu saja hal itu mengundang rasa ingin tahuku dan terjadilah perbincangan:
Aku : “wah seru tuh, bisa aktivitas di ranah social”
Temenku : “biasaa aja mas, dari pada di kos nganggur” sambil menyimpulkan senyum
Aku : “trus apa aktivitasnya di kegiatan itu?”
Temenku : dengan wajah bersemangat dia sampaikan “setiap malam minggu mas, kami akan pergi ke tempat-tempat yang dianggap sebagai lading orang pacaran dan berbuat termasuk tempat prostitusi mas”
Tambah penasaran aku
Aku : “trus apa yang kalian lakukan disana? Apa member penyuluhan? Atau dskusi? Atau apa?
Temenku : “bukan mas, itu standar. Tau apa yang kami lakukan?”
Aku : “apa?”
Temenku : “ kami bagi-bagi kondom!”
Aku : *maksa senyum
Temenku : “bagi kami mas, seks bebas itu sudah tidak bisa di cegah. Yang bisa dicegah adalah dampaknya mas, dan hasil surve kami membuktikan bahwa dampak yang paling ditakutkan oleh seorang yang melakukan seks bebas itu bukan HIV AIDS mas, tapi kehamilan. Oleh karena itulah, kami turun untuk membantu agar dampak kehamilan itu bisa direduksi”
MIRIS!!
Tapi begitulah realita lingkungan kita, yang barusan adalah kisah nyata bahwa ada sekelompokorang yang rela bersusah dalam rangka melanggengkan sebuah tindakan asusila bernama free sex, dengan alas an yang sangat manusiawi sebenarnya tetapi salah.
Miris, tapi begitulah realita lingkungan kita
Lihatlah disekeliling kita,
Warnet misalnya, sudah kaya hotel dengan tariff termurah, setiap bilik tertutup rapat bahkan bisa dikunci dari dalam, lengkap dengan fasilitas yang nyaman didalam bilik itu. Yang lebih parah bahka ada sebagian yang menyediakan link ke situs-situs yang tidak semestinya disaksikan. Jangan lupa, Indonesia adalah Negara terbesar ke 3 pengakses situs porno…
Itulah lingkungan kita, dan kita ada di dalamnya.
Contoh lain misal dalam ujian nasional, cek secara riset objektif berapa persen jumlah siswa yang tidak nyontek? Apa ada 10 % atau malah Cuma 1% ? malah ga ada kayaknya. Gimana ga nyontek, orang gurunya saja menganjurkan, sistemnya dibuat agar mempermudah proses nyontek tersebut, bahkan triknya pun diajari. Semuanya terkalahkan dengan ketakutan ketidaklulusan termasuk integritas diri!
Ya, pada akhirnya lulus, lulus uujian nasional sekaligus lulus mengalahkan integritas dirinya. Sukses dengan kelulusan dengan cara menghancurkan masa depanya.
Miris, tapi itulah lingkungan kita.
Semua akhlak baik rasanya harus tergusur kalau kita mau eksis dipanggung kehidupan.
Kuliah misal, dari proses masuk saja sudah ada peluang ketidak jujuran, peluang untuk curang, dengan cara “membeli” satu status mahasiswa. Setelah jadi mahasiswa juga banyak peluang ketidak jujuran, titib absen, nyontek pas ujian, mbayar orang buat ngerjain tugas, bahkan skripsi pun punya tukang. Bahkan tidak sedikit yang status sarjananya adalah melalui transaksi pasar bukan siding ilmiah. Sekali lagi miris.
Atau kalaupun seorang mahasiswa yang lurus sejak masuk sampai kelulusannya, dan setelahnya dia butuh pekerjaan, maka system(red:lingkungan) lagi-lagi memaksa dia untuk berbuat curang. Untuk masuk perusahaan, atau menjadi PNS selalu ada calo yang menjanjikan kelulusan dengan harga berjenjang bahkan. masyaAllah…
Percaya atau tidak tapi begitulah realita yang terjadi disekeliling kita.
Dan saya meyakini setiap kita pasti bisa menceritakan atau menguak kisah-kisah lain yang lebih miris, yang itu membuat kita bersepakat atau tidak sepakat harus menganggukan kepala bahwa kita sedang berada pada lingkungan yang tidak mendukung kita untuk menjadi baik.

Lantas?? Apa yang harus kita lakukan??
--bersambung#5--

Prayboy

0

keren ni gambar

Metamorfdiri #3

0
Parameter ‘baik’ itu beda beda

Jadi jelas, bahwa setiap kita pasti menginginkan pilihan yang terbaik. Persoalannya adalah baik itu yang bagaimana? Pake parameter apa. Karena ternyata baik bagi orang yang satu bisa jadi BEDA dengan baiknya orang lain.
Makan daging kambing bagi sebagian orang adalah salah satu hal terbaik, kandungan protein banyak dan bisa menaikan tekanan darah. Tapi bagi orang hipertensi? Wahana di dufan misal, yang high impact, bisa jadi satu permainan yang menantang dan menyenangkan, tapi bagi para pengidap penyakit jantung? *bunuh diri kali ya….
Cantik bagi si A belum tentu buat si B, cocok buat si A belum tentu buat si C. nah nah nah,
Pernah punya pengalaman menarik, seseorang datang dengan menggebu-gebu, keringat bercucuran mengalir seperti kran di bak (lebay) lantas bercerita tentang satu hal yang bagi dia sangat menarik,
Teman: “mas ayo tak ajak pergi, refresing sekaligus cari ilmu. Seruuuu pokoknya”
Saya: “wah kemana? Sepertinya menarik tu”
Temen: “tentu menarik mas, kita mau berbicara tentang masa depan kita, biarpun masih sma kita semestinya sudah ga bergantung sama orang tua, dan bisa menentukan sendiri arah tujuan hidup kita (muka bijak)”
Saya: “pingin si, tapi maaf ada acara lain, kapan-kapan deh, ada saatnya nanti, hehe (diplomatis)”
Temen: “nyesel ntar lho mas, dia Cuma datang hari ini doang”
Saya: “dia? Dia siapa?”
Temen: “ya yang mau ngasih ilmu sama kita, orangnya keren, kaya, mobilnya bagus, sip deh pokoknya”
Saya: *mikir
Temen: ayolah mas… (muka memelas)
Saya: karena ga tega akhirnya ngomong “yuk deh,”
Temen: *jingkrak-jingkrak
Akhirnya kami berangkat ke suatu tempat yang agak horor,hoho
Setelah 15 menit perjalanan akhirnya sampai tempat tujuan…
Pelan-pelan masuk ke rumah bertemu dengan orang yang dijanjikan, hening karena hanya bertiga disebuah ruang yang ‘horor itu. lalu apa yang terjadi?....
Deng deng deng --------presentasi mlm--------- -_-“
Setelah presentasi lama, samapi selesai. Diakhir acara saya ngomong sama temen saya
Saya: “trimaksih sudah review materi presentasi”
Temen: “review????”(muka sangat penasaran)
Saya: (diam dan menyodorkan kartu tanda anggota mlm yang baru dipresentasikan)
Temen: *tepok jidad *glodhak!!!!
----------kisahnyatadengansedikitrekayasa---------------
Bagi temen saya, saya adalah target terbaik, tapi bagi saya? -___-“

Bagi sebagian orang, bir, wiski, daging babi, dsb adalah hal terbaik dan ternikmat, tapi bagi sebagian orang yang lain malah menjadi laknat. Bagi sebagian orang pacaran, ciuman, sampai freesex adalah surga sebelum surga, bagi sebagian orang yang lain adalah neraka berbalut indah fatamorgana. Bagi sebagian orang, nyontek, korupsi, menipu adalah shortcut kesuksesan, bagi sebagian orang yang lain adalah jurang kehancuran.
Barangkali masih ada banyak cerita lain yang menjadi bukti bahwa parameter terbaik masing-masing orang itu berbeda. Dan lebih penting adalah kita berada diantaranya dan HARUS memilih diantaranya. Tentu saja yang terbaik!!
Lalu, pertanyaannya adalah:
Baik menurut siapa? Yang universal? Yang kebenarannya mutlak? Yang baik bagi semua orang?
Allah berfirman:
“hai orang-orang beriman, masuklah islam secara kaffah….”
Dalam surat Al Baqarah 216 Allah juga berfirman
“……….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu……..”
Nah looo…
Bagi yang mengaku beragama Islam, jelas tu perintahnya. Bahwa kita semestinya menjadikan islam sebagai manhaj dalam keseluruhan hidup kita (kaffah), atau bahasa sederhana saya Islam kita jadikan bingkai batas kehidupan kita. Kita boleh ngapain aja asalkan masih ada didalam bingkai tersebut. Dan itu jelas berdampak pada pilihan-pilihan sikap hidup kita.
Pada ayat selanjutnya Allah sampaikan bahwa yang baik menurut kita belum tentu baik meurutNya dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk buatNya.
So, dampak dari ke”kaffah”an kita dalam islam tentu saja adalah menjadikan parameter ‘baik’ dalam hidup kita adalah ‘baik’ yang digariskan oleh Allah swt. Bukan keinginan nafsu kita, pilihan kebanyakn orang sekalipun. Tetep madeg jejeg pilih yang “baik” menurut Allah swt
Mulai sekarang, kita jadikan islam sebagai filter dari setiap pilihan-pilihan dalam hidup, biar ridho Allah kita dapatkan. Dan kalau sudah kaya gitu apapun yang kita inginkan, insyaAllah akan dikabulkan.
Selamat mencoba...

Metamorfdiri #2

4
Setiap Orang Inginkan Yang Terbaik Bagi Dirinya

Setiap orang jelas menginginkan yang terbaik akan berpihak pada dirinya sendiri, diakui atau tidak tapi begitulah faktanya. Mulai dari hal yang sangat kecil-kecil sampai hal yang besar tentunya. Makanan, rumah, baju, aktivitas, pekerjaan, sahabat, istri, guru atau apapun yang berelasi dengan diri kita, pasti kita menginginkan yang terbaik buat kita.
Makanan misal, kita akan pilih makanan yang paling baik, yang bergzi lengkap, empat sehat lima sempurna pokoknyalah. Kalau mampu tapi,hehe. Kalau enggak? Tetep dari budget yang kita miliki, kita akan pilihkan yang terbaik. Ya ngga? Harus iya *maksa. Kenapa temen-temen yang pada ngekos tu makan hamper tia[ hari pake tempe? Sederhana, karena budgetnya Cuma cukup buat itu,haha. Kalau punya lebih pasti akan milih yang lebih juga, yang terbaik buat dirinya.
Baju misal ni, tentu akan pilih yang paling baik, entah itu bahannya, harganya, kecocokannya, match atau enggaknya, momen apa, dimana dsb. Bahkan bagi sebagian orang dalam hal memilih baju butuh ritual yang pajaaaag, biar dapat yang “ngeh” degan dirinya. Apalagi buat hadapi momen special, seisi lemari bisa keluar semua, (haha mulai deh lebay). Coba bayangkan seandainya ada seorang perempuan/akhwat milihnya gini, jilbab warna merah, baju warna kuning dan rok warna hijau. Gimana tuh? Bisa disangka traffic light berjalan -_-“. Atau misal dalam agenda pertemuan formal, tiba-tiba kita dating dengan baju kostum hallowen, haha bisa ditendang satpam kita.
Sahabat juga kita pingin yang terbaik, ya ga? Yang bisa ngerti kita, yang selalu ada disaat suka dan duka, yang mau berbagi air mata, yang mau nganter kemana-mana, yang bisa dipinjemin uang kapan saja (mulai ngaco) dsb.
Pekerjaan juga pasti pengen yang terbaik, tempatnya nyaman, kerja ringan, tapi gaji besar, haha. Ya setidaknya tidak membuat batin tersiksalah.
Yang ga lupa dan paling sensitive dibicarakan biasanya soal pasangan, ya kan? Hayoo
Kita jelas pingin yang paling ganteng/cantik, yang pengertian, yang keren, yang kaya, yang sholeh dsb. Walaupun kita sering ga nyadar: kita si pasti mau sama orang kaya gitu tapi emang orang yang perfect gitu mau sama kita??? Nah lo *gludhak.
Sampai ada seorang murid datang ke guru ngajinya dan critanya minta dicarikan istri. Sang muridpun menyampaikan criteria yang diinginkan. Banyaaaak, sholehahlah, pnslah, mapanlah, punya motor, cantik, dsb. Detaiiiill banget. Lalu sang guru ngaji dengan wajah serius menjawab “anakku, kalau ada perempuan yang seperti itu, hmm…. pasti sudah saya lamar dari duluuuu, g ague kasihin eloo”.
Murid: -____-“

Longterm memori

0
yang kalau inget suka bikin ketawa, senyum, tersipu, sedih, kangen, dsb

alhuda lama, masih ditimur, bersekat triplek, dan yang paling khas 'thok...thok...thookkk." lalu ada suara "assalamu'alaikum, ada akh/ukh..... bla bla bla..."
main gitar sambil nyanyi nyanyi sampai ditegut "afwan akh, lagunya tidak akhsan.." emang bukan mba, ini lagu keris patih -__-"
ngerjain orang di FIA
jalan jalan tengah malam, eh dini hari, sampai alun2 kidul, nongkrong lama, trus ke tugu, dsb. tapi tetep makannya di burjo depan kos.
tidur dikamar kos ukuran 3x3 (kayaknya) diis 6 orang.. dah ga jelas bentknya. tahu tahu ada yang ga sengaja kakinya neken dispenser pas di tuas buat ngeluarin air, banjir deh -__-"
jenguk rame rame sahabat yang kecelakaan sampai kakinya di gip, disambut dengan senyum khasnya sambil menyibakkan rambut yang berponi,hehe. pulangnya kasih kenang2an tanda tangan di gip
liga onet
edisi temanggung, PPT, preman-preman tarbiyah, nggrudug indomaret kirain mau apa ternyata nyari toilet -__-"", makan siomay di alun alun, main air dikaki gunung, poto siluet, pulangnya ada yang nylempit ditengah truk gandeng, akhirnya sms lagi istirahat di puskesmas, bersamaan dengan itu ada hp ilang di trans jogja. sip
ga punya kos 3 bulan, tiap hari kerjaannya bawa handuk keliling kos orang numpang tidur dan mandi,he
ngobrol bersama dipuncak lawe sambil ditemani rintik gerimis hujan, diakhiri nyanyian. nice :)
di'pecat' dari wakil presiden rema malah dikasih bunga, hehe malamnya candlelight diner alami alias mati lampu sampai larut, dan endingnya ada puisi cinta :')
pasta api unggun, udah ngumpulin kayu, udah susah payah nyaliin api, 5 menit kemudian.... hujan. :'(
poto boysband di tugu, yang akhirnya gagal lounching
jinggle al huda, ajari aku merasa

sudah banyak episode ternya, terimakasih, dan maaf.

pasti banyak yang terlewat tak tertulis, maklumlah sambil lari nulisnya, mencoba memunculkan memori saja...

ayo tuliskan momen yang lain ya... ntar dikembangkan. jadi novel atau setidaknya kenang-kenangan.
ntar bukunya bisa kita wariskan ke cucu kita masing masing.

:)

Metamorfdiri #1

0
Hidup adalah akumulasi dari pilihan sikap
Ibarat sebuah perjalanan yang bertemu dengan pertigaan, perempatan, perlimaan, perenaman, pertujuan dan seterusnya, lantas kita harus memilih salah satu jalan, dalam kehidupan keseharian, kita senantiasa dihadapkan juga dengan pilihan-pilihan hidup. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai dari pilihan-pilihan kecil sampai pada pilihan-pilihan besar.
Mulai dari bangun pagi, lihat jam itu kita sudah masuk pada pilihan. Akan bangun atau melanjutkan tidur lagi. Kalau milih bangun, maka akan lanjut kepada aktivitas selanjutya yang juga milih, mau gosok gigi atau engga, cuci muka engga, mandi atau enggak, sarapan atau engga, nyetrika baju atau engga, mau berangkat sekolah/kuliah atau enggak, dsb. Yang setiap pilihan itu akan berdampak pada jalan kehidupan. Bisa jangka panjang bisa jangka pedek. Missal ni, pas buka mata, lihat jam nunjuk angka empat, males bangun karena berfikir kepagian trus milih tidur lagi nah ternyata bangun kesiangan jam 6 misal, mangka dampaknya akan mempengaruhi pilihan sikap kita selanjutnya. Karena telat, tidak bisa milih lagi mau sarapan atau enggak, ya bisa si, dengan resiko lebih besar tidak ikut sekolah/kuliah. Contoh lagi, misalnya bangunnya dah pagi tu, trus dihadapkan dengan pilihan mau sarapan atau enggak, ternyata milih enggak sarapan. Ngefek ke kehidupan selanjutnya. Sakit perut akan membuat kehidupan kita jadi berbeda, kelaparan mbikin dikelas ngantuk, ga tau materi, ga memperhatikan dosen atau guru, dimarahi, akhirnya harus minjem catetan, hasil ujian jelek, harus ngulang, dsb. Wah wah wah karena milih ga sarapan bisa ngulang kuliah tahun depan, hehe. Ya agak lebay dikit ga papa deh, tapi itu real, nyata memang seperti itu, bahwa pilihan pilihan kita dalam setiap momen waktu akan berdampak pada kehidupan selanjutnya. Yang lebih besar misalnya adalah ketika kita lulus smp atau sma, lantas harus melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pilihan itu jelas akan berdampak pada masa depan kehidupan.
Hidup kita yang sekarang juga dampak dari pilihan-pilihan sikap kita masa lalu, yang kurus, mungkin karena dulu lebih milih ga suka makan, yang gemuk, mungkin dulu memilih untuk makan banyak dan penuh nutrisi. Yang sekarang pinter dan sekolah/kuliah di tempat terbaik, mungkin karena dulu juga memilih untuk giat belajar, bberusaha keras, yang sekarang belum mendapatkan apa yang dimau, mungkin karena dulu milih enggan berusaha, enggan belajar dsb. Yang jelas, kesemuanya adalah dampa dari pilihan-pilihan sikap kita di masa lalu.
So, masa depan adalah dampak dari pilihan-pilihan sikap kita hari ini. Bagi yang mau masa depannya baik, aka perhatikanlah pilihan-pilihan hari ini.